Selamat Datang!

Kierkegaard pernah berkata, “I see it all perfectly; there are two possible situations—one can either do this or that. My honest opinion and my friendly advice is this: do it or do not do it—you will regret both.”

Jika harus menuliskan daftar berisi hal-hal yang tidak pernah cukup bagi manusia, maka kepuasan sudah jelas ada di dalamnya. Pilihan selalu penuh pertanyaan, juga ketenangan serta penyesalan terhadap itu. Kemudian, di paragraf di atas membantu menyusun pikiran-pikiran, karena jika ada satu atau dua hal yang muncul di kepala tentang Kierkegaard, maka sesal adalah salah satu di antaranya.

Menarik bahwa bagi Kierkegaard: penyesalan itu tidak terhindarkan.

Kesimpulan—atau hikmah, atau apapun kata yang tepat—dari pikiran-pikiran ini, dengan bantuan Kierkegaard adalah manusia itu memang tidak pernah puas, maka pertimbangan-pertimbangan—baik yang dipikirkan secara matang atau yang muncul dari kebiasaan semata, jika terlalu muluk, akan berujung jadi pembenaran-pembenaran belaka demi menunda membuat keputusan.

Mungkin dengan begitu, akan memberikan manusia rasa kontrol akan situasi yang menuntut untuk memilih. Memilah dan mempertimbangkan, memberi sensasi bahwa masih ada ruang kebebasan untuk bergerak, karena ketika keputusan telah diambil, maka selesailah segalanya. Dari situ, yang tersisa hanyalah menjalani apa yang telah dipilih. Kebebasan itu hilang, dan berganti pada pertanyaan-pertanyaan tentang, bagaimana dengan keputusan yang tidak diambil?

Dan tidak ada yang membunuh perlahan seperti semua perandaian itu, bukan?

Jadi, apa yang dikatakan Kierkegaard tentang menyesali apapun yang dipilih—dan tidak—adalah kenyataan pahit, yang dengan cara absurd, mampu menenangkan.

Kembalilah kita pada cara bertahan hidup yang sederhana: hidup itu dijalani, bukan untuk dipertanyakan. Tapi, tidak ada juga yang melarang untuk mempertanyakan, dilakukan atau tidak, ya terserah saja. Jangan lupa, lakukan atau tidakkau akan menyesali keduanya.

Leave a comment