Pelecehan Seksual dari Berbagai Sisi
Lembar 3 – Hidup Masing-masing Orang

Setiap orang menjalani hidup mereka masing-masing.
Setiap luka dan masa lalu yang menghantui akan dihadapi sendirian. Tentu saja kita tidak pernah benar-benar sendiri. Selalu ada keluarga dan teman-teman yang membuatnya sedikit lebih mudah (atau lebih sulit). Tapi dihadapan kepentingan besar, tidak ada yang peduli dengan luka-luka yang harus dihadapi mereka yang terlibat. Benar bahwa apa yang sudah terjadi biarlah berlalu, dan menjadi bagian dari masa lalu, hidup adalah tentang bergerak ke depan. Tapi siapa yang menjamin bahwa peristiwa yang berlalu tidak memiliki luka yang tinggal dan ikut berjalan, menuntut masa depannya sendiri?
Spotlight juga menyoroti tentang beberapa keluarga korban yang menjadi tertutup, dan anti terhadap pers, mengusir mereka seolah mereka pun turut bersalah karena ingin mengungkap kebenaran. Juga keluarga yang harus hidup berdampingan dengan anggota keluarga yang terperangkap oleh trauma-traumanya. Kadang, trauma semacam itu hidup, menjadi sosok yang membunuh perlahan, menjadi pusat kehidupan keluarga-keluarga terluka yang dipaksa diam sampai mereka lupa caranya saling mencintai, karena harus terus berhati-hati.
Tidakkah menyebalkan rasanya, menyepelekan hal-hal yang berpengaruh besar pada cara seseorang hidup, cara ia memandang dirinya, cara ia menentukan pilihan, hanya karena beberapa kepentingan yang lebih besar harus dibebaskan dari keharusan mengakui kesalahan? Hanya karena ada sebuah sistem besar yang berpihak pada ketimpangan terus dilestarikan?
Sang Bersalah menjalani hidup, menjadikan bagian peristiwa itu bagian kecil yang pernah terjadi. Ketika pada saat yang bersamaan, peristiwa itu mempengaruhi seluruh hidup seseorang. Menjadikan segala bagian hidupnya untuk lari, mencari kepingan-kepingan rasa aman pada apapun, atau sepenuhnya berhenti percaya.
Tidak semua orang cukup kuat untuk sepenuhnya menimbun rasa takut juga traumanya dan kemudian menjalani hidup tanpa bekas dari luka-luka itu. Ada yang harus kehilangan dirinya sendiri, tidak mampu berfungsi selayaknya, terperangkap dalam kondisi psikologis terguncang dimana mereka akan selalu bergantung pada orang lain atau ditinggalkan untuk menghadapinya sendirian.
Berapa kali kita mendengar tentang orang-orang yang lantas menjadi gila karena diperkosa?
Bagaimana dengan mereka, orang-orang yang kita sayangi? Bagaimana kita mengumpulkan kepingan-kepingan diri mereka yang hilang perlahan karena penyimpangan yang melibatkan mereka? Apa yang terjadi jika mereka terluka karena itu? Apa yang akan membuat mereka merasa aman lagi? Akankah mereka tumbuh menjadi orang-orang yang menjadikan masa lalu mereka sebagai kekuatan untuk tidak lagi jatuh pada malapetaka yang sama? Jika tidak, kemana kehancuran itu membawa mereka?
Bagaimana jika kenistaan semacam itu membuat mereka menjadi bibit-bibit baru untuk kesalahan yang sama? Mampukah mereka mencintai diri mereka sendiri seperti seharusnya, dan tidak menyakiti diri atas kebejatan yang memilih mereka ketika mereka begitu rentan?
Kenapa bukannya membuka dosa-dosa yang dibungkam itu kemudian belajar untuk tidak menciptakan lubang yang sama? Kenapa bukan mengatakan semuanya seperti ketika ia terjadi? Kenapa tidak membiarkan saja segala penyimpangan dan pelanggaran dalam sebuah institusi atau siapapun, dibuka sejujurnya?
Tidakkah mengetahui siapa yang berbuat, dan bagaimana mereka melakukannya akan membantu kita melihat—dan jika harus, mengerti— mengapa mereka melakukannya? Untuk kemudian memilah jauh lebih baik siapa saja yang akan meneruskan pekerjaan mulia mereka. Membuat kategori baru, syarat-syarat baru untuk dipenuhi sebelum mereka duduk dalam wewenang. Dan melihat celah-celah lain yang akan membantu mengobati juga mencegah kerusakan lain untuk seterusnya.
Mengapa segala penyelesaian yang kita tahu sejauh ini hanya tentang bagaimana menangani kondisi yang telah terjadi? Padahal bukankah yang penting adalah bagaimana mencegah? Mengapa sudah sejauh ini, kita masih memperdebatkan hal-hal sepele macam pakaian korban ketika kejadian, padahal kita tahu itu adalah bagian paling payah dalam pembahasan ini? Bagaimana bisa kita menyanyikan lagu-lagu tentang kehormatan ini dan itu, lalu menunjuk kesalahan pada korban—perempuan maupun lelaki, dan bukan pada salah yang sesungguhnya? Mengapa kita senang memelihara hal-hal yang kita tahu tidak benar, dan melestarikan stigma-stigma bukannya menembus jauh ke dalam, dimana akar busuk itu tinggal?
Mengapa kemalangan semacam ini membuat kita menghakimi dan menyudutkan posisi yang salah? Mengapa kita memasang tingkat kesepelean pada beberapa bentuk pelecehan ini, lalu menyebut korban “berlebihan” karena itu “hanya cat-calling”? Mengapa kita juga menyalahkan ketika korban yang takut akhirnya harus mengalami peristiwa ini berkali-kali, bukannya menyeret leher pelaku (secara harfiah) ke hadapan hukum?
Mengapa kita, hanya akan berpihak pada korban ketika kita sudah lebih dulu membenci pelaku?
Atau sepenuhnya, dengan kesadaran terjaga, dengan segala fakta yang ada, bertanya kembali: mengapa kita masih memelihara sistem yang salah ini?
Tidakkah hidup masing-masing orang, orang-orang yang kita kenal dan sayangi, kebahagiaan dan rasa aman mereka, jauh lebih berharga daripada mengampuni dosa-dosa orang bersalah yang diselamatkan oleh sistem yang ditopang pada hal-hal yang memaksa kita untuk percaya bahwa ini semua tidak mampu kita kendalikan?
Leave a comment