Pelecehan Seksual dari Berbagai Sisi
Lembar 2 – Pengorbanan
Masih di topik yang sama, dengan sub judul berbeda.
Tulisan ini masih akan dibuka oleh pembahasan dari video perempuan Youtube. Salah satu pembahasan dalam videonya adalah, saran kepada para penontonnya. Dia memulai cerita tentang kekecewaannya pada keluarganya yang tidak mengambil tindakan yang menurutnya patut untuk dilakukan terhadap iparnya yang melakukan pelecehan. Lalu dia menyarankan kepada penonton, jika ada anggota keluarga yang menceritakan pelecehan yang dialaminya, sebagai keluarga harus mendukung dan membantu melewati semua itu.

Selalu ada pertimbangan, mengapa sesuatu terjadi seperti yang telah terjadi. Dari apa yang diceritakannya, si Polisi ini, yang menikah dengan kakaknya, memiliki sebuah posisi yang cukup kuat di keluarga itu dengan status pekerjaannya sebagai Polisi. Kemampuan ekonomi yang berlebih di keluarganya yang menengah ke bawah. Beliau juga sempat menyekolahkan si perempuan Youtube ini ketika ia duduk di Sekolah Menengah Pertama, dan dia pertama kali dilecehkan ketika ia masih Sekolah Dasar.
Dan cerita baru, dari sebuah thread di twitter pagi ini oleh serorang Dokter yang sedang menangani gangguan jiwa pasca trauma seorang anak 16 yang dibuang oleh keluarganya, setelah ia menceritakan bahwa ia diperkosa enam lelaki, yang kemudian dinikahkan dengan seorang lelaki tua yang juga memperkosanya di lain kesempatan; ketika dia ditampung petinggi desa setelah dia diusir dari rumah. Tulisan ini tidak akan lulus sensor jika pengungkapan rasa muak akan peristiwa ini diuraikan secara gamblang.
Mencoba menguraikan cara orang-orang berpikir dan beraksi pada sebuah masalah memang kadang sama membingungkannya dengan masalah itu sendiri. Dalam sebuah dialog dalam film Spotlight, kerumitan itu kira-kira seperti ini.
“Uskup datang ke rumah, dia bilang sesuatu seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya, dan dia minta pada kami untuk tidak mengajukan gugatan.” – Korban
“Dan apa yang Ibumu lakukan?” – Sacha Pfeiffer
“Ibuku? Dia menawarkan kami kue.” – Korban





Senada dengan pernyataan lain.
“Saat kalian menjadi anak miskin dari keluarga miskin, agama berarti sangat besar. Dan saat seorang pastur memberi perhatian, itu seperti karunia besar. Saat dia memintamu mengumpulkan buku kidung pujian, atau membuang sampah, kau merasa istimewa. Itu seperti Tuhan meminta tolong.” – Phil Saviano
Kita mungkin akan sedikit kesulitan mengerti bagaimana para anak lelaki itu dan orang tuanya seperti tidak keberatan ketika para Pastur meminta mereka melakukan hal yang tidak pantas. Bagaimana ketika melakukannya, mereka seperti sedang percaya bahwa ini adalah tindakan yang benar. Sudut pandang itu dibentuk, dan jika pembentuknya ada di posisi yang sulit dibantah, kebenaran akan memiliki banyak sekali wajah.
Tidak ada yang salah dengan mempercayai Tuhan lewat agama apapun yang mampu kita jangkau ajarannya. Namun ketika memaafkan orang-orang dengan status religius hanya karena mereka dianggap tak bernoda, itu jelas salah. Mereka hanya orang-orang yang menyebarkan ajaran, bukan sumber kebenaran itu sendiri.
Perempuan Youtube itu mungkin cukup mampu bersabar selama beberapa waktu, untuk kemudian mengerahkan segala pilihan hidupnya setelah kejadian yang menimpanya untuk terlepas dari keluarga, dan peristiwa gelap masa kecilnya. Gadis 16 tahun itu, harus menerima kenyataan lebih buruk: kehilangan pegangan sama sekali, oleh karena keluarga yang lepas tangan. Menghadapi sebuah sistem yang bergerak ke arah yang salah bukan pekerjaan mudah, itu yang pasti. Ketakutan Korban untuk bicara adalah salah satu akibat dari pergerakan sistem ini. Tentu saja jika salah satu resikonya adalah dibuang oleh keluarga, ketakutan untuk bercerita ini cukup masuk akal. Tidak ada yang mau tertimpa tangga sehabis jatuh.
Kembali pada Spotlight, dan kepentingan-kepentingannya.
Idealnya, bahkan Negara-pun bekerja untuk rakyat, demi kesejahteraan mereka. Seorang jurnalis tidak boleh berbohong dalam membuat berita, tidak ada ruang bagi opini—itu adalah pekerjaan orang lain—dan, hanya boleh melaporkan fakta semata. Beberapa kasus Fotografer yang dicabut penghargaan atas karyanya karena mereka mengubah bagian kecil dari foto tersebut adalah bukti betapa ketatnya menjaga bentuk sebuah kebenaran. Bagaimanapun bentuknya, begitulah kebenaran itu harus keluar: apa adanya.
Kebenaran tidak boleh dipoles jadi lebih cantik karena dengan begitu bisa mengaburkan apa yang penting.
Keberpihakan adalah sesuatu yang penting dalam Jurnalistik, dan seperti idealnya Negara dibangun untuk kesejahteraan Rakyat, seperti itu juga idealnya Jurnalistik hadir untuk memihak hanya pada kebenaran dan fakta dari suatu peristiwa. Idealnya. Mike Rezendes menunjukkan satu hal lain yang juga penting: alasan untuk memaksa perubahan, pertanggung jawaban yang dia ungkapkan ketika ia gusar akan sikap ragu-ragu Walter Robinson.

“Ini saatnya, Robby! Ini saatnya! Mereka tahu, dan mereka biarkan ini terjadi pada anak-anak. Bisa terjadi padamu, bisa terjadi padaku, bisa jadi siapapun dari kita. Kita harus tangkap bajingan ini. Kita harus tunjukkan pada orang-orang bahwa tidak ada orang yang bisa bebas dari ini.”
Bukan keharusan Jurnalis memang untuk menangkap kriminal. Sekali lagi, semua orang punya porsi masing-masing. Tapi ketika sebuah cerita menyentuh orang yang lebih banyak, kamu tidak akan sendirian. Jika keluarga tidak bisa mendukung, tidak bisa mendampingi, Korban harus disambut dengan tangan lain yang mengerti. Jika ini adalah perang, maka musuh terbesar adalah kebungkaman. Dalam diam, pelaku tidak mendengar tuntutan. Diam menyembunyikan korban dan kenyataan. Diam, bisa menghanyutkan, lalu korban lain berjatuhan. Karena tidak ada peringatan, karena tidak ada hukuman, karena semua diam.
Pengorbanan bukan hal yang mudah, dan sistem yang merasuki pikiran-pikiran ini menyarankan kita penyelesaian yang hampir selalu timpang.
Leave a comment