Spotlight (2015)

Pelecehan Seksual dari Berbagai Sisi

Lembar 1 – Institusi Besar Yang Menyembunyikan

Apa kalimat penyemangat yang juga terdengar begitu menakutkan pada saat yang bersamaan?

“Kamu tidak sendirian”, menyemangati ketika seseorang berada di posisi yang buruk, mengingatkan dia bahwa beban yang ditanggungnya, tidak hanya dia sendiri yang merasakan. Ada orang-orang yang mendukung, dan akan mendampingi segala yang harus dia lewati agar mampu melangkah maju, dan ada mereka lainnya yang bernasib serupa. Coba ucapkan “kamu tidak sendirian” sekali lagi, bayangkan betapa benarnya pernyataan itu, bahwa kamu memang tidak sendirian; ada korban lain di luar sana, kamu tidak sendirian.

Tidak ada orang yang benar-benar sendirian, tapi betapa menyakitkan ketika apa yang menyatukan kita adalah, trauma-trauma yang lahir dari pikiran-pikiran kotor orang lain. Belakangan ini, isu mengenai kriminalitas seksual sedang naik daun. Bukan kepopuleran yang patut disyukuri, tapi di sinilah kita sekarang.

Beberapa waktu yang lalu, sebuah rekomendasi dari Youtube muncul di halaman utama. Video seorang perempuan yang bercerita. Perempuan itu bercerita, sebuah bagian dari masa kecilnya ketika dia dilecehkan secara seksual oleh iparnya sendiri. Pelaku itu adalah seorang Polisi. Profesi memang tidak pernah sanggup menjadi pegangan yang menahan keburukan pribadi seseorang, tapi profesi mampu menyelamatkan mereka dari resiko untuk bertanggung jawab atas kesalahan. Berkali-kali ia bertanya, mengapa orang itu tidak dihukum, padahal sudah jelas-jelas dia melakukan tindakan kriminal dan dia sudah menceritakan kejadian itu pada anggota keluarganya yang lain.

Sebuah pertanyaan penting, yang ia ungkapkan dengan getir. Berada di masyarakat yang tidak begitu luwes membicarakan seks, pelecehan seksual akan selalu menjadi aib. Sayangnya, yang menjadi aib adalah korban, bukan pelaku—sistem ini bergerak ke arah yang salah, itu sudah pasti.

Mari mencoba mencari jawaban dari pertanyaan itu dari sebuah film yang memenangkan Best Motion Picture of the Year Oscar tahun 2016. Film ini bercerita tentang empat wartawan rubrik investigasi di koran The Boston Globe yang diperintahkan untuk menggali kisah pencabulan yang dilakukan puluhan pastur pada ribuan anak di bawah umur, dibintangi Mark Ruffalo, Michael Keaton, Rachel McAdams, dan Brian d’Arcy James, judulnya Spotlight.

Mereka mengerjakan berita ini, bergerak mengikuti arus cerita dari pihak-pihak yang terlibat. Investigasi panjang yang benang merahnya adalah kepentingan yang bertabrakan. Kepentingan-kepentingan itu kemudian merumitkan banyak hal. Di film ini, terlihat bahwa kerumitan itu terjadi karena—seperti juga yang sudah-sudah—kita selalu menganggap ada urusan-urusan tertentu yang harus diutamakan. Keberpihakan memang mampu menghapuskan kebenaran dari sisi lain yang berseberangan. Kepentingan-kepentingan yang lebih besar akan selalu mengorbankan kepentingan yang kecil. Tapi, selalu ada sisi lain dalam sebuah cerita.

Mari kita mulai dari kepentingan paling besar dalam peristiwa yang diusut The Boston Globe. Karena film ini mengangkat sebuah peristiwa nyata di Amerika yang mayoritas penduduknya beragama kristiani, maka pencabulannya dilakukan oleh pastor yang mengabdi pada gereja. Kalau di Indonesia, kita mungkin lebih sering mendengar pencabulan dilakukan oleh ustad-ustad di Pesantren. We’ve seen it for sure. Topiknya sama; pencabulan yang dilakukan olah orang-orang beragama di bawah institusi yang dipercaya berisi orang-orang berakhlak.

Atau seperti kisah perempuan di video Youtube itu: seorang Polisi, dan institusinya adalah bagian dari mereka yang bertugas menegakkan hukum. Mengayomi masyarakat begitu katanya. Tapi, who are we fooling?

Dosa perorangan memang tidak lantas harus selalu membuat kita mengutuki institusi yang menjadikan statusnya terpandang, namun ketika seseorang menggunakan institusi itu untuk lolos dari tanggung jawab, itu tidak dapat diterima. Tentu saja, yang melakukan kesalahan adalah orang-orangnya, dan konstitusinya akan selalu berjalan dibawah aturan-aturan yang tujuannya yang berupa cita-cita yang dijunjung tinggi. Idealnya seperti itu, tetapi (lagi), who are we fooling?

Kepentingan Gereja adalah menjaga nama baik institusinya sebagai simbol agama. Memiliki orang-orang yang melanggar aturan Tuhan ketika secara keseluruhan pekerjaan mereka adalah memastikan semua orang patuh pada ajaran-Nya bukan cerita yang bagus untuk umat. Gereja tidak boleh kehilangan orang-orang yang percaya, atau institusi keagamaan lainnya secara umum. Tindakan-tindakan dosa bisa menggoyahkan iman, atau mengutuki keseluruhan bagian yang menyangkut agama tersebut. Maka dosa-dosa itu harus diam, tidak boleh ada yang tahu.

Bagaimanapun caranya, semua saksi harus bisu.

Dengan bantuan beberapa Pengacara handal, kesepakatan untuk tidak mengajukan gugatan dan terus menutup mulut lewat jumlah uang tertentu, cukup membuat hal semacam ini tidak muncul ke permukaan. Dan posisi “suci” yang dimiliki pemuka agama, akan dengan mudah membuat orang-orang tidak keberatan dengan pilihan yang seolah-olah memang hanya satu.

Ini bukan gugatan terhadap agama, atau institusi apapun yang bernaung di bawahnya. Dunia ini memang hanya tentang lapisan-lapisan kepentingan yang saling tumpang tindih. Dan kekuasaan adalah kekuatan yang mampu mempertebal lapisan itu untuk melindungi, menutupi, atau mengendalikan. Dimana keberpihakan akan menjadikan kejujuran sebagai permaian kata, yang menjadi tempat dimana nama-nama tertentu mengasah keahliannya dengan bermain petak umpet. Dan satu atau seratus manusia yang menjadi korban silahkan mengurusi trauma mereka masing-masing! Siapa suruh miskin dan lahir di keluarga tidak terpandang!

Betapa konyol rasanya menaruh kepercayaan pada sesuatu yang dikerjakan oleh Pendusta, pada orang-orang yang menyuruh kita mematuhi perintah ketika mereka sendiri melanggar. Melanggar, lalu menggunakan statusnya untuk melarikan diri dari hukuman yang pantas mereka dapatkan. Tidak hanya untuk mereka yang diberi gelar-gelar relijius, tapi juga gelar-gelar lainnya yang membuat mereka tidak tersentuh hal-hal yang akan jadi sangat mengerikan ketika itu harus terjadi pada kita, orang-orang tanpa gelar dengan kepentingan kecil yang tak seberapa.

Kita hidup dengan sistem ini, terlalu lama, terlalu detail, hingga kita belajar untuk melindungi banyak hal, bahkan jika itu memaksa kita mengambil keputusan yang mengorbankan hal-hal tidak seharusnya.

Leave a comment