Di Usia yang Bertambah

Satu per satu, tidak datang sekaligus, dalam kabar baik dan buruk, saya terus diingatkan bahwa saya berada jauh sekali dari rumah. Mulai dari hal-hal kecil seperti makanan, hingga kepergian anggota keluarga. Tinggal jauh dari rumah tidak sulit, cepat atau lambat akan beradaptasi juga akhirnya, tetapi berduka dari kejauhan bukan hal yang mudah.

Dibolak-balik bagaimanapun, sebagian besar kehidupan saya ada di sana. Saya tidak selalu memikirkannya seperti itu, karena jika selalu, akan berat sekali memahami kehidupan saya di sini. Kadang rasanya seperti terbelah.

Berduka dari kejauhan itu rasanya begitu kosong. Di sana, keluarga berkumpul, dan dengan cara mereka masing-masing, saling menguatkan. Di sini, tidak. Di sana, semua orang berada dalam satu rumah dan saling tahu untuk apa mereka di sana, dan untuk siapa mereka berduka. Di sini, sepi sekali.

Rasa kosong itu tidak bisa saya jelaskan dengan baik.

Yang saya tahu adalah, nanti jika saya pulang, tidak ada lagi Pakde.
Yang saya tahu, Bude kehilangan seorang suami, pendamping hidupnya.
Yang saya tahu, sepupu saya kehilangan seorang ayah.
Yang saya tahu, Mama serta adik-adiknya kehilangan seorang kakak.

Tentu saja, ada kehilangan sebelum ini. Namun tetap saja, kehilangan, apapun bentuknya, akan selalu sulit. Sesak. Sesak yang berat sekali. Walaupun tidak sekali, dan bukan yang pertama kali.

“No truth can cure the sadness we feel from losing a loved one. No truth, no sincerity, no strength, no kindness, can cure that sorrow. All we can do is see that sadness through to the end and learn something from it, but what we learn will be no help in facing the next sadness that comes to us without warning.”

Haruki Murakami

Keluarga Mama dimakamkan di satu pemakaman yang sama. Pemakaman kecil desa kami, tidak jauh dari bandara. Kali berikut ini, ketika saya pulang nanti, bertambah satu makam yang akan kami datangi.

Dan betapapun nyatanya paragraf di atas, rasanya begitu sulit percaya.

grief is a house
where the chairs
have forgotten how to hold us
the mirrors how to reflect us
the walls how to contain us

grief is a house that disappears
each time someone knocks at the door
or rings the bell
a house that blows into the air
at the slightest gust
that buries itself deep in the ground
while everyone is sleeping

grief is a house where no one can protect you
where the younger sister
will grow older than the older one
where the doors
no longer let you in
or out

Jandy Nelson, The Sky is Everywhere

Pakde adalah anak pertama Eyang Putri dan Eyang Kakung saya, dan kakak dari Mama.

grief is a house where no one can protect youwhere the younger sisterwill grow older than the older one

Pakde satu tahun lebih tua dari Mama, dan mulai tahun ini, tidak lagi.

Leave a comment