Biru dan Lawannya

Kenakan ia, ketika kau pergi ke tempat yang tinggi,
agar di jalan pulang, ia menjadi pendengarmu
walau sepi.

Kekasihmu kan beristirahat,
Ia selalu ingat.

Kemana arahmu kembali,
ke sana ia kan menuju,
bersamanya kau tak perlu merasa sendiri.

Kepingan-kepingannya begitu kecil,
namun kini, hanya itu yang kita punya.
Dan ia adalah satu-satunya rona yang kita kenali.

Supaya nanti,
kita mengerti.

Leave a comment