Akhirnya, Bjorka menonton Pesan untuk Bjorka pertamanya. Mungkin ia akan melakukannya dengan satu-satunya cara yang kita tahu, mendokumentasikannya dalam sebuah video yang berjudul: My Reaction to Pesan untuk Bjorka (Watching it First Time Ever, Finally! The Best Birthday Treat!). Dan kita akan menatap layar, tertegun, menggumamkan umur Bjorka yang seketika menjadi ukuran untuk waktu pada pencapaian hidup kita sendiri. Entahlah apakah ketika kita setua itu, kita masih peduli pada Pesan untuk Bjorka atau tidak.
Will you be contended enough by then? Will you be wherever you think you would be at that point of your life? How about your dreams, achieved or left behind?
Sorry, I didn’t mean to make you feel depressed. Just don’t let it get inside your head.
Anyway, Bjorka.
Jika Bjorka sudah bisa menonton Pesan untuk Bjorka, itu tandanya dia sudah dewasa. Itu artinya, Sekala, Gempita, Kirana, North West, dan Pangeran George juga kira-kira berada di umur yang memungkinkan mereka menunjukkan kepada dunia siapa diri mereka sesungguhnya, bukan lagi sebatas apa yang ditunjukkan orang tua mereka di media, dan media sosial. Tumbuh dengan banyak mata yang mencurahkan perhatian kepada mereka terhadap apa yang orang tua mereka berusaha tanamkan, tentu menjadi sebuah keseruan tersendiri to see how they turn out to be. Will they stay in line, a path their parents put them in, atau mereka menemukan banyak hal along their growth that they turn out to be completely different person?
Menikah dan punya anak menjadi semacam tren belakangan ini, walaupun menyebutnya seperti itu membuat segala pernikahan, kehamilan, dan kelahiran ini terdengar seperti koleksi musiman fashion designer. Padahal, tentu saja pernikahan tidak sesepele itu. Konfirmasi untuk pertanyaan barusan tidak ada di tulisan ini, coba bertanya saja pada yang sudah berikrar janji setia, sehidup semati.
Kembali ke topik, yang tentu saja bukan pernikahan.
Muncul sebuah pertanyaan setiap kali menonton video bayi-bayi ini: bagaimana rasanya tumbuh besar dengan dokumentasi seintens itu? Ketika setiap bagian dari pertumbuhan menjadi konsumsi jutaan orang. Sang Ibu yang senang berbagi apapun, momen, ilmu, atau sekedar kelucuan bayi-bayi, dan jutaan lainnya mengikuti setiap pergerakan Sang Bayi. Lalu bayi-bayi itu sendiri dengan kesadaran mereka terhadap apa yang terjadi.
Pada saat kelahiran, dan kisah haru yang menjadi pengalaman personal seorang perempuan yang baru saja menjadi Ibu, lelaki yang kini seorang ayah, juga pengalaman sebuah keluarga yang baru bermula ditonton jutaan mata.
Terlalu banyak saksi, bahkan ketika diri sendiri belum sepenuhnya mencerna dan memberi makna.
Bayi, balita, dan anak-anak adalah kejujuran dalam bentuk tubuh mungil dan ekspresi menggemaskan. Mereka melakukan segala hal tanpa motif-motif berlebihan untuk mencapai tujuan tertentu. They don’t play mind-games, they just do whatever crosses their mystery mind at that particular time. Strategi mereka sependek, aku-lapar-dan-jika-menagis-mereka-memberiku-makan, lalu terpecahkanlah masalah mereka. Tidak ada skenario panjang berisi strategi matang yang menghasilkan apa yang orang-orang sebut, “menang banyak”.
Dengan semua postingan yang ada—dibagikan orang tua mereka, kira-kira apa yang mereka rasakan ketika melihat kehidupan yang tidak lagi mereka ingat, terdokumentasi serapi itu. Dan bukan rahasia lagi, jika apapun yang diunggah adalah hasil saringan orang tua yang mempostingnya. Jadi, seperti menonton diri sendiri dari ingatan orang lain yang menyisihkan segala hal-hal yang mereka putuskan untuk tidak menjadi bagian dari cerita.
Then, the next questions, how real is it? How real could it be? How real it supposed to be? For them, the babies. Not us, definitely not us.
Bayi-bayi tidak tahu cukup banyak mengapa mereka bertindak akan sesuatu. Apa yang cukup menarik perhatian mereka pada saat itu, itu yang akan mereka kerjakan, sespontan itu. Kemudian segala tindakan spontan itu mendapat perhatian dari banyak orang, sebelum mereka sendiri mampu memahami kenapa mereka melakukannya. Kemudian, menariknya lebih jauh sampai ke sebuah definisi, tentang siapa “diri” mereka.
Bagaimana sensasi melihat diri sendiri lewat sudut pandang semacam itu? Dan segala citra bentukan orang tuanya di foto dan video, akankah mempengaruhi cara mereka memahami diri ketika nanti saatnya mereka mampu memperhitungkan langkah mereka sendiri? Akankah hanya memperngaruhi atau membantu, atau bahkan menyulitkan mereka dalam proses yang sangat personal ini?
Segala yang sudah hidup dalam internet, tidak akan pernah mati. Tidak ada yang benar-benar terhapus, hanya konten yang terkubur dengan konten baru yang lebih hits. Menemukan banyak sekali kepingan-kepingan diri dengan cara itu, kira-kira efek apa yang dihadapi anak-anak itu kelak?
Bagaimana hubungan mereka, anak-anak ini—baik yang terkenal maupun tidak— dengan memori pertama jika segalanya sudah tercatat rapi di setiap episode vlog di akun Youtube atau Instagram orang tuanya?
Ini bukan tulisan yang ingin menjatuhkan nilai, apakah orang tua yang secara konsisten merekam tingkah laku anaknya dan membagikannya kepada dunia adalah hal yang baik atau buruk. I have nothing to offer to argue in that question or other similar ones. Hanya sebuah tulisan yang berisi pertanyaan-pertanyaan dari rasa penasaran, tentang fenomena ini. Bukan untuk menghakimi atau memakluminya di masa sekarang, melainkan melihat potensinya di masa depan.
Tentu saja di masa sekarang, kita akan mengotakkan berbagai opini, tentang apakah itu salah atau benar, tentang dimana batas wajar dan sudah tidak layak, atau seberapa itu dapat membantu calon orang tua untuk lebih siap jika nanti anak-anak mereka lahir. Karena pada akhirnya, penonton bebas mejatuhkan penghakiman mereka masing-masing, terlepas apakah itu tepat atau tidak, atau seirama dengan tujuan awal dibagikannya semua itu. Ini adalah konflik yang kita hadapi di masa sekarang, but, not the one I am interested about. Sudah terlalu banyak opini di kolom komentar sana dan sini, and I don’t feel like adding one to any of that. Hanya penasaran, where this phenomenon is taking us.
Mungkin, saya hanya harus berumur panjang untuk melihat jawabannya, atau mengurangi jam tidur saya mencari padangan para ahli tentang ini, because science is some kind of magic, no? It predicts through data and patterns, maka bisa jadi pertanyaan-pertanyaan inipun sudah terprediksi, and answered. It’s 2020, nothing can surprise us anymore.
Leave a comment