Lalu, bagaimana rasanya? Beda sekali dari rumah. Jalan pulang terlalu jauh.
Mari tidak menjabarkan detail tentang mengapa kesadaran tersebut menyakitkan, karena isi daftarnya membosankan. Kau sudah mendengarnya dari mana-mana, orang-orang yang berbeda, sikap mereka, cara pandangnya, sistem yang berlaku, makanan, kebiasaan yang harus berhenti karena tidak mungkin lagi dipelihara, semuanya. Lewatkan saja basa-basi itu.
Begini, di manapun kau berada, akan menyenangkan jika kau tahu batas waktumu di tempat itu. Berlibur, belajar, atau bekerja, dengan batas waktu yang membuatmu merasa harus melihat semuanya atau waktumu habis begitu saja dan bisa jadi tidak cukup untuk semua pengalaman yang mampu dihadirkan tempat itu. Kau datang dengan banyak rencana bagaimana menghabiskan hari-harimu dalam kurun waktu itu. Kau harus mencoba semuanya, mendatangi banyak tempat, dan hari-harimu harus produktif.
Sederhananya, kau tidak ingin membuang-buang waktu, karena jika itu bukan tempatmu berasal dan betumbuh, kau selalu punya tempat lain yang kau tuju untuk pulang. Dan jika kau tahu kapan kau akan pulang, kau tahu suatu hari kau akan meninggalkan tempat itu. Ketika tiba waktunya.
Maka, semua pengalaman itu berbeda ketika kau tidak tahu kapan kau pulang. Kau punya seluruh waktu di dunia untuk memahami segalanya dengan tenang dan tidak terburu-buru. Kau bisa menikmati hari-harimu tanpa tekanan bahwa kau harus memadatkan jadwalmu, setiap akhir pekan harus selalu ada sesuatu, banyak hal yang harus selalu disempatkan.
Tanpa jadwal pulang, kau harus menukar tekanan itu dengan hal lain.
Kau harus bersiap dengan sikap mental yang berbeda. Tanpa batas waktu yang jelas, ini bisa jadi justru menakutkan. Iming-iming tentang ‘selamanya’ tidak selalu terdengar mempesona.
Hidup berdampingan dengan orang-orang yang memiliki pemahaman bersama namun berbeda dari apapun yang diajarkan padamu sejak kecil. Belajar kembali dari awal tentang berbagai perbedaan itu, memperjelas titik kopromi dimana kau tidak harus terjun bebas membuang nilai-nilai yang menjadi bagian dari dirimu sejak entah kapan kau menerimanya tanpa kau sadari. Itu artinya belajar ulang untuk menemukan kendali sekali lagi, bukan hanya karena terbiasa. Belajar untuk menawar beberapa prinsip, membuka percakapan dengan diri sendiri, menanggalkan dan menerima secara seimbang, hingga mungkin, mempertanyakan kembali tentang beberapa makna atau pemahaman yang kau pikir sudah selesai.
Haruskah mengambil langkah sebesar itu?
Seharusnya ya. Jika kau tidak tahu kapan kau pulang, maka di tepatmu berpijaklah segala yang nyata berada. Maka, setiap perubahan kecil butuh penyesuaian yang mesti cukup kuat untuk berpengaruh. Meskipun perjalanannya mungkin tidak juga telalu ekstrim, karena dijalani lewat hal-hal kecil, seperti mengubah kebiasaan untuk tidak mengeluhkan jalan kaki beberapa blok karena tidak ada ojek. Atau mendengarkan topik-topik obrolan curhat santai yang kemudian mengarah pada analisis psikologi dasar. Juga tentang mengecoh rasa malas. Kecil dan tidak seberapa, tapi bukankah tidak ada yang lebih kuat bekerja daripada alam bawah sadar yang diam-diam menyusun pandangan barunya? Kau harus selalu berhati-hati memperhatikan langkah-langkah yang diambil alam bawah sadar itu, atau kau kehilangan caranya terkoneksi dengan kedua dunia yang menjadi bagian dirimu.
Ketika orang-orang berkata bahwa tidak ada tempat yang lebih nyaman dari rumah, mereka tahu apa yang mereka bicarakan. “Membangun” rumah di tempat baru, tidak selalu hal yang datang dengan mudah. Maka, beradaptasi tidak selalu singkat, dan melakukannya tanpa batas waktu pasti pada dasarnya adalah mempersiapkan diri untuk kejutan yang panjang.
Bukan, bukan beradaptasi untuk menerima menu makanan berbeda, menghadapi cuaca, atau menyerap bahasa dan sistem yang baru. Tapi beradaptasi pada ide-ide tentang, “jika harus mati di tanah ini”. Beradaptasi dengan cara mencintai orang-orang lewat jarak. Itu adalah banyak ulang tahun dan kebahagian lain yang hanya bisa dirayakan lewat ucapan semata, kesedihan yang dihadapi dalam hening di sela-sela percakapan lewat sambungan telepon, dan rencana-rencana yang selalu ditutup dengan doa dalam sepenggal kalimat, “semoga ada kesempatan itu”. Beradaptasi untuk menemukan nyaman di tawa orang-orang yang berbeda. Beradaptasi semacam itu.
Segalanya mungkin, dan kau tidak tahu kemana hidup membawamu.
Ini bukan keluhan, hidup masih baik-baik saja. Hanya beberapa paragraf untuk meluruskan pikiran, agar ia dapat kembali berfungsi. Banyak hal yang harus dikerjakan, dan otak yang berkeliaran di tempat yang salah tidak membantu sama sekali.
Leave a comment