Lepaskan…

Butuh waktu memang, untuk mengesampingkan hal-hal tidak menyenangkan untuk benar-benar memahami sebuah situasi agar tidak mengambil kesimpulan bodoh. Dan ketika yang berantakan menemukan awalnya, berbagai penjelasan menjadi masuk akal—seperti seharusnya, seperti yang dibutuhkan. Akhirnya, penerimaan adalah sebaik-baiknya pemakluman.

Mungkin memang butuh waktu selama ini untuk mampu kembali mengingat hal-hal baik, yang beberapa waktu belakangan benar-benar sebuah kesulitan. Ternyata, hal-hal baik itu membawa kesedihan ketika melihatnya di posisi ini, sekarang.

Namun, mungkin hanya lewat posisi ini, sekaranglah, akan dimengerti tentang apa seluruhnya. Menyangkal itu adalah tindakan yang tidak bijaksana, terlebih lagi menentangnya, jauh lebih buruk. Terkadang, kesadaran adalah sundal yang harus dijadikan teman baik.

Tidak ada rasa kehilangan yang nyaman.

Ketika sesuatu terjadi, ada perubahan-perubahan demi penyesuaian yang diperlukan. Dan ketika kesadaran ini tidak dipahami oleh keseluruhan yang terdampak, ketimpangan hadir dan membuat kestabilan yang ada harus kacau. Kacau; untuk menemukan keseimbangan baru melalui penyesuaian-penyesuaian yang perlu itu. Awalnya semua baik-baik saja (berita baik harus disambut dengan suka cita), hingga suatu hari segalanya terasa terlalu berat. Banyak kekecewaan kecil yang perlahan menjadi sangat besar hingga rasanya sulit sekali untuk tetap tenang.

Menyesuaikan diri.

Orang-orang menyingkirkan, dan menambahkan sekehendak mereka. Sayangnya, ketika yang berubah adalah “apa“, “siapa“ akan terpahami berbeda juga—bahkan ketika kita mengelak untuk melakukannya. Ketika ini terbantahkan, mau tidak mau jadi menyadari bahwa penyesuaian yang dibutuhkan jauh lebih besar. Dan itu hanya membawa pada pemahaman-pemahaman lain yang sama mirisnya. Maka, sekali lagi: menyesuaikan diri saja.

Leave a comment