Kemarin membaca sesuatu di Twitter, tentang tetangga yang bertikai karena persoalan memasak daging babi. Terkejut tentu saja, melihat bahwa memang sudah sangat jauh negara ini dari tentang apa Ia sebenarnya. Lama sekali, orang-orang terdahulu memutuskan untuk menamakan kesatuan kecil itu Rukun Tetangga. Gotong Royong, dan hal-hal lainnya, dan belakangan rasanya semakin menjadi omong kosong.
Pertikaian dua tetangga itu memicu perdebatan di Twitter, satu berpendapat, urusan dapur itu terlalu sensitif untuk dicampuri, dan menu hidangan sebuah keluarga tidak seharusnya memberatkan orang lain. Lalu ada yang berpendapat, jika bau masakannya mengganggu, wajar saja ada orang yang protes, terlebih jika menunya “haram”.
Warganet memberikan satu solusi bagi keduanya: “kalau tidak suka, tinggal di hutan aja”.
Jika keluarga yang memasak daging babi tidak bisa menghormati tetangganya yang tidak makan babi, mereka tinggal di hutan saja. Jika keluarga yang tidak makan babi tidak bisa menghormati mereka yang mengkonsumsi hidangan babi, mereka tinggal di hutan saja. Jika keduanya memutuskan untuk melakukannya, mereka akan kembali menjadi tetangga di hutan. Bagaimana jika warga hutan keberatan mereka bertikai di sana, dan berkata, “kalau tidak suka, tinggal di kota saja”?
Melihat posisi hutan yang begitu penting—tidak hanya bagi warga satu RT, tapi seluruh dunia—dan kondisinya saat ini tidak begitu baik, memindahkan dua tetangga yang bertikai karena urusan meja makan ke hutan, bukanlah pilihan yang ramah lingkungan.
Twitter ramai, banyak orang merasa pendapat mereka cukup pantas untuk dibaca, dan memang sebagian cukup layak dan membuka pikiran dan mata akan kenyataan yang tidak menyenangkan. Atau lebih tepatnya, menakutkan. Agama masuk terlalu dalam pada lubang-lubang yang seharusnya diisi hal lain.
Perkara Babi ini jadi satu dari beberapa bahan yang membuka diskusi mengenai toleransi di Indonesia yang berada di titik gawat yang menakutkan, tapi reaksi warganet bukanlah reaksi yang sehat. Reaksi yang dimaksud adalah reaksi “kalau tidak suka, tinggal di hutan saja”. Bagaimana ini akan menyelesaikan masalah? Bagamana menyingkirkan dianggap sebagai solusi? Jadi begitu saja, ketika sesuatu bersebrangan dengan yang kita percaya, kita akan menyuruh mereka keluar dari ruang yang kita anggap milik kita lalu semuanya akan baik-baik saja?
Tidak semua orang berpikir seperti ini, tentu saja. Namun bagi orang-orang yang membuka diri pada kemungkinan itu, harus ada pertanyaan yang juga diajukan pada mereka. Itu adalah kalimat perumpamaan, dan bukan soal tentang mengusulkan orang-orang untuk bermigrasi ke hutan karena tidak bisa saling menghormati. Ini tentang bagaimana ketika ada yang tidak hidup dalam kesepakatan yang sama, dianggap memiliki alasan yang cukup untuk beranjak dari tempat dia berada. Kalau tidak suka, angkat kaki saja.
Melihat orang-orang yang berpikiran untuk menyelesaikan masalah dengan cara itu sedikit meresahkan. Jika kalimat itu diulang berkali-kali, hingga menjadi hukuman yang dianggap pantas bagi orang-orang yang berbeda, lalu semua orang hidup dengan cara yang sama, masa depan macam apa yang akan kita hidupi? Anak-anak yang melihat dua sisi peristiwa dengan pemahaman bahwa satu sisi adalah salah? Orang-orang yang hidup dengan cara yang sama hingga kita tidak bisa memikirkan cara hidup yang lain?
Tapi, bagaimana jika itu semua benar? Bagaimana jika itulah cara hidup yang membuat kita berumur panjang? Hidup berdampingan dengan kesepakatan yang sama, lupa tentang memahami perbedaan? Bagaimana jika itulah yang akan membawa kita ke masa depan? Orang-orang dengan kumpulan mereka sendiri, dan tidak lagi hidup di bawah sistem bernegara, melainkan sistem lain yang masyarakatnya bersatu atas dasar kesepakatan terhadap sesuatu, bukan di tanah mana mereka dilahirkan.
Bagaimana jika begitu saja? Karena nampaknya untuk berdamai, terlalu mustahil dan kelewat muluk. Seberapa banyak orang yang kini masih mau berdamai dengan sesama, berkompromi, melihat ‘titik tengah’ dengan jauh lebih tenang, agar perbedaan tidak menjadi bibit perselisihan? Masih banyakkah yang mau menjadikan perbedaan sebagai kesempatan dan ruang untuk merenungi nilai-nilai yang berbeda, bukan malah menjadikannya bibit perseteruan?
Tidak hanya tentang tetangga yang berselisih tentang babi itu saja tadi, tapi untuk semua hal yang kita kenali tapi tidak mampu kita sepakati.
Leave a comment