Dalam Bayang-bayang

Di sana kau duduk diam. Menatap wajah orang-orang, dan dalam kepalamu pertanyaan bermunculan. Juga kenangan tentang orang-orang yang kau cintai di suatu waktu, dan mereka yang kau sayangi. Kepalamu gatal, dan kau menggaruknya pelan.

Kepalamu selalu sibuk, ketika kau sendiri tanpa lawan bicara. Kau berharap ada yang bisa mengalihkan perhatianmu sekarang. Lalu kau menunduk begitu khusyuk, seperti sedang mempelajari bentuk sepatumu, berhati-hati menatap setiap bagiannya. Lalu kau mengingat sepatu yang pertama kali kau kenakan di hari pertama sekolah, bertahun-tahun lalu.

Kau mencoba membayangkan seberapa kecil kakimu waktu itu. Kau menyadarinya, bahwa kau pernah berumur 5 tahun, dan segala yang kau tahu adalah nama-nama warna yang diajarkan gurumu di minggu pertama. Kau sudah tidak sekecil itu lagi sekarang.

Lalu kepalamu memutar ingatan-ingatan yang lebih banyak, cepat sekali. Kau hampir kalah dengan dirimu sendiri, mencoba mengejar kenangan-kenangan yang bergerak cepat itu. Kau menggosok kedua telapak tanganmu, memijat jari-jarimu dengan pelan. Mengatur napasmu, mengajak kepalamu untuk melambat.

Kau melihat wajah-wajah yang kau kenali. Semuanya di dalam kepalamu. Satu per satu kembali, semacam wajah ibumu yang sumringah, bercerita tentang tingkah masa kecilmu yang tidak mampu lagi kau ingat. Kau merasa begitu asing dengan kisah itu, seperti sedang mendengar tentang orang lain. Pada detik itu kau merasa yakin, begitu yakin, walau tak terjelaskan: kau mencintai Ibumu lebih dari yang mampu kau katakan padanya, lebih dari yang kau sendiri mampu pahami. Kemudian kau mendapati dirimu mencintai tanpa takut—tidak seperti yang sudah-sudah—karena kau tahu, Ibumu mencintaimu lebih dari yang bisa kau bayangkan. Dan jika ada yang mampu mencintaimu sebesar itu, mengapa harus takut?

Lalu Ayahmu terlintas dalam ingatanmu. Kemudian banyak pertanyaan, ia adalah teka-teki yang kau tidak begitu yakin harus dipecahkan. Kau bertanya-tanya, sebesar apa dia mencintaimu Ibumu? Adakah sebesar cinta yang kau punya? Atau lebih sedikit? Apakah kau akan menjadi seperti dirinya suatu hari nanti, atau setidaknya mampu memahaminya? Kau tidak ingat banyak hal, namun kau ingat ketika pertama kali ia mengajarimu bersepeda, atau ia memukul tubuhmu begitu keras ketika kau pulang ke rumah dalam keadaan mabuk suatu malam dan ibumu menangis di belakangnya? Kau bertanya-tanya, apakah mungkin memiliki pilihan lain, tentang bagaimana menjadi seorang Ayah, atau akankah kau berakhir menjadi Ayah yang sama seperti ia terhadapmu bahkan ketika kau bersumpah akan menjadi berbeda?

Orang-orang lainnya bermunculan, tumpang tindih, bergantian meminta perhatian.

Mereka yang entah mengapa, dulu rasanya kalian berbagi otak yang sama dan kini terlalu jauh untuk dijangkau. Mereka yang kau temui beberapa tahun terakhir dan membuat hidup sedikit lebih ringan. Mereka yang kau patahkan hatinya, dan mematahkan hatimu seolah-olah itu yang terakhir. Mereka yang kau kagumi, atau kau hindari. Mereka yang mengajarkanmu hal-hal yang tak kau sangka ada, dan mereka yang tanpa sadar membawamu kembali pada hal-hal yang kau tinggalkan di suatu waktu. Mereka yang membuatmu percaya tentang yang semula kau tolak, dan mereka yang membuatmu memuntahkan segala nilai yang kau anut begitu patuh sebelumnya.

Kau kembali menunduk, mempelajari kembali sepatumu. Lalu kau tegakkan dudukmu, kau angkat lehermu, dan mengusap wajahmu dengan satu tangan. Kau menghela napas, berat dan panjang.

Lihat! Kau sudah berjalan sejauh ini. Tapi tunggu dulu, bagaimana rasanya melihat kembali ke belakang, dan mengerti seberapa jauh langkahmu, namun di saat yang sama, kau tidak merasa begitu berbeda? Kau hanya bisa menjadi dirimu, dan tidak ada waktu untuk istirahat dari itu. Suara-suara yang bergantian bicara dalam kepala tidak pernah meninggalkanmu. Kau tidak bisa pergi, kau tidak punya pilihan lain selain mendengarkannya, sebaik atau seburuk apapun.

Tidak seharusnya begitu.

Punggungmu kini bersandar pada sofa yang tidak begitu empuk. Kau bertanya pada kepalamu: mungkinkah memikirkan hal lain selain yang sedang kau pikirkan? Mungkinkah? Lalu, jika jawabannya tidak, kenapa harus kau menentukan hal semacam itu untuk dirimu sendiri? Jika jawabannya ya, bagaimana caranya?

Di tempat kau berada sekarang, kau mendengar sesuatu yang familiar, sayup-sayup. Kau mulai menajamkan telingamu, memastikan bahwa apa yang kau dengarkan adalah seperti tebakanmu. Perlahan, kau tahu kau benar. Kau mulai mengikuti, menggumamkannya dalam kepalamu. Lagu itu mengingatkanmu pada seseorang. Dia menyanyikannya begitu sering, sampai kadang membuatmu kesal. Kadang, lagu itu terputar kembali ketika kau memutar lagu secara acak dalam perjalanan menuju kantor.

Lagunya berakhir, dan ingatanmu tertinggal padanya.

Kembali kau menunduk, sepatumu masih di sana dan kau tidak merasa ingin melakukan apapun. Waktu terus bergerak, dan sepertinya tidak ada lagi yang cukup penting untuk diteruskan di tempat ini. Kau melamun saja sedari tadi, tidak berhenti menatap sepatumu seakan-akan bisa saja ia berubah menjadi sesuatu yang lain. Tapi kau juga belum mau pulang, dan kau benci merasa begitu. Tak punya alasan untuk tinggal, tak juga mampu pergi. Kau benci merasa tertahan untuk alasan-alasan yang tak mampu diuraikan.

Ini yang selalu kau lupa: ia hanya ingin kau lekas pulang.

Leave a comment