Dia sedang duduk di samping jendela, tidak mengucapkan apapun. Di luar sedang mendung, cuaca musim dingin yang menyebalkan. Aku tiba-tiba teringat temanku berkata, “Berlin is famous for being so grey”. Di luar terlalu abu-abu, dan kakiku dingin sekali, dan kata seorang dokter yang kukunjungi akhir tahun lalu, “it’s normal from someone from a hot country”. Tiga lapis kaus kaki selalu kukenakan setiap keluar rumah, beradaptasi tidak selalu mudah.
“Hey old man!” aku berseru, ia tidak bergerak sama sekali, tetap melamun. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Aku melanjutkan saja walau jelas sekali ia tidak tertarik apa apapun yang ingin kukatakan, “I think everything‘s fine but if we‘re honest this time, I‘d say love is hard enough without the winter”.
Ia melirik sesaat.
“It’s a song lyric, the singer is Luka Sital-Singh, not me. I don’t know how to write that good. It’s a nice song, do you want to hear it?” aku bertanya, sambil bertaruh dengan diri sendiri bahwa dia akan menolak.
Namun aku melihatnya mengangguk. Maka, aku membuat lagunya sedikit lebih nyaring, agar kami berdua bisa mendengarnya. Aku kalah taruhan dengan diri sendiri.
“So, do you think love is hard enough without the winter? Or is it hard in general? Or without anything? Have you loved someone? Or currently in love?” aku suka mengajukan banyak pertanyaan sekaligus padanya, karena aku tidak pernah tahu mana yang akan menarik perhatiannya.
“It’s quite an undertaking to start loving somebody. You have to have energy, generosity, blindness. There is even a moment right at the start where you have to jump across an abyss: if you think about it you don’t do it.” dia menjawab, entah untuk pertanyaan yang mana.
Aku masih ingin mengatakan sesuatu, atau bertanya beberapa hal lain. Namun ia kembali menatap ke luar jendela, dengan tangan kanan yang menopang dagunya, diam, termenung. Keheningan bisa menjadi semacam hipnotis, ketika aku mendapati diriku menatap keluar jendela, terpaku pada satu titik sekaligus tidak benar-benar menangkap apa yang kutatap. Semakin samar di telingaku lalu yang terputar.
I think everything’s fine, but if we’re honest next time I’d say love is hard enough without…
Ratusan butir salju jatuh seketika, dan tak satupun dari kami merasa harus melanjutkan percakapan. Ruangan ini hening, dia tetap duduk dan diam. Aku hilang di dalam kepalaku, terlalu dalam hingga aku tidak merasa seperti diriku lagi.
Leave a comment