Menyadari dan sepenuhnya memahami bahwa orang-orang akan berubah, waktu tidak pernah berhenti di satu titik, dan stagnasi adalah kebalikan dari hidup, membantu untuk selalu bersiap pada kenyataan ini: tidak ada yang abadi. Tentu saja tidak ada yang abadi, karena semua akan mati, begitu kan? Tapi coba pahami di luar dari kesimpulan pendek itu, benar-benar, tidak ada yang abadi.
Jika tidak ada yang abadi, dan hidup ini adalah kumpulan berlapis-lapis makna, cukupkah dengan berpikir bahwa tidak ada yang abadi itu hanyalah tentang kematian yang menghentikan kehidupan? Jika hidup berisi jutaan kisah, dipenuhi milyaran manusia, dan bergerak tanpa henti, adilkah memberikannya satu batasan saja? Kemana segala yang nyata dan fana, jika hanya satu hal yang menjadi ukuran tentang ketiadaan?
Setiap akhir, adalah awal yang baru: pilih sendiri apakah itu menakutkan atau membebaskan.
Leave a comment