Aku menerka-nerka saja, karena pada akhirnya, kita memang hanya akan menemukan prasangka. Aku lelah, walau tak punya cukup alasan untuk sepenuhnya berhenti. Tapi pertanyaan kadang menghantui dengan kejam, walau aku tak yakin akan siap dengan jawabannya.
Hanya sekejap, kau sebarkan isyarat.
Katakan saja, seberapa benar segala yang pernah kau ucapkan. Aku mungkin akan keberatan, tapi setidaknya kau membebaskan aku dari satu hal. Jawabanmu akan menyakitkan, aku tahu, tapi itu jauh lebih baik dari omong kosong berurusan dengan imajinasi yang bermain pada kemungkinan.
Mundur beberapa langkah tidak begitu saja membuat ini menjadi mudah. Kau masih tinggal. Dan di dalam ruang ruang itu, kau menjelma dalam berbagai bentuk yang begitu kukenali. Aku hanya ingin beristirahat, menundukkan segala pertanyaan dan keberatanku. Mencari bentuk lain dari apa yang pernah menjadi dirimu, hanya agar malam ini, aku tidak perlu risau lagi.
Aku mengikuti alur jalan ini, karena Sayangku, aku tidak bisa bertarung melawan tiga musuh, sedang kau percaya wajahmu hanya ada satu.
Leave a comment