Tengah malam, 4 orang berbincang tentang penyuka sesama jenis. Awalnya biasa saja, dua orang saling bercanda. Di luar, lampu jalanan bersinar kekuningan, dan tenang. Lagu setelah lagu, malam itu dingin. Dua orang itu memulai sebuah pembicaraan lain, topik lain yang bukan lelucon. Sudah tidak bercanda, dan rumah masih tenang, hanya lagu-lagu yang sebagiannya tidak familiar.
Dua orang itu, satu lelaki, dan satu perempuan — aku. Dua kepala, dua cerita, dua argumen. Pertanyaan, lalu jawaban, opini, kemudian sanggahan. Ruangan menjadi sedikit hangat, dan tidak lagi mengikuti lagu apa yang sedang terputar lewat pengeras suara.
Dia yang memulai pembicaraan dengan sebuah pertanyaan, “bagaimana pendapatmu tentang orang-orang yang menyukai sesama jenis?”
Langsung saja aku menjawab betapa aku tidak keberatan sama sekali.
Lelaki bilang, “kau tidak tahu rasanya, itu risih”.
“Memangnya mereka seberani apa?” tanyaku dengan pemahaman, sebagian besar dari mereka akan selalu ‘bersembunyi’ lewat banyak hal yang mereka — penyuka sesama jenis itu — pikir cukup masuk akal, dan dengan polosnya berpikir mereka tidak akan kurang ajar.
“Cukup berani,” ujarnya, dengan nada sedikit meninggi. Namun tidak marah, hanya sedikit bersemangat. Mungkin karena pengalamannya bisa menjadi cukup bukti bahwa aku bisa saja salah menilai. Dia kemudian melanjutkan, “aku sendiri yang mengalami. Salah masuk cafe, dan ada yang menyentuhku tiba-tiba.”
Kutanya dia, “tanpa meminta izin terlebih dahulu?” dan ia mengiyakan. Aku lanjut bertanya, “lalu apa yang kau lakukan?”
“Hampir saja aku memukulnya,” dan menambahkan kalau dia menegur lelaki itu dengan sedikit kasar.
Aku tidak terkejut. Justru sebagian dari diriku marah, bukan pada siapapun yang diceritakan lelaki ini, tapi pada seluruh aspek pelecehan seksual yang tidak lagi bisa menjadi keresahan satu gender. Siapapun beresiko, dan dunia ini jadi selalu menakutkan karenanya.
Pembicaraan itu menarik perhatian seorang lagi, dia kemudian bergabung. Sekarang, menjadi dua lawan satu. Keduanya sepakat, bahwa LGBTQ adalah sesuatu yang salah. Walau perempuan yang baru bergabung ini jauh lebih santai menghadapi isu ini, daripada lelaki yang sedari tadi menjadi lawan bicaraku. Perempuan ini akan memberikan komentar-komentar mengawang, seperti, “itu pilihan mereka, namun tentu saja tidak semua pilihan adalah benar”. Semacam itu. Menghargai keputusan seseorang sepertinya memang tidak harus selalu membenarkan.
Selalu ada sisi untuk eksplorasi dari sebuah fenomena, karena selalu ada cara untuk melihat sesuatu, selalu ada titik berangkat dalam belajar memahami. Asap rokok berputar di sekitar, lalu lebur bersama arah angin. Kami bertiga sudah duduk terlalu nyaman, dan pembicaraan masih cukup menyenangkan.
“Bisa jadi, mereka hanya mengikuti tren, terbawa oleh pergaulan,” ujar sang perempuan. “Aku punya beberapa teman yang seperti itu, karena terlalu sering menghabiskan waktu bersama orang-orang yang punya kecenderungan menyukai sesama jenis, mereka pun akhirnya menyukai sesama jenis.”
Ini pun tidak membuatku terkejut, sudah banyak cerita serupa.
“Atau sakit hati oleh pasangannya, lalu mereka memilih untuk menjalani hubungan dengan sesama jenis.”
Lelaki itu berkomentar, “itu yang salah, karena tidak semua orang akan berlaku sama”.
Masih tidak mengejutkan, walaupun aku tak tahu kejutan macam apa yang aku tunggu.
Aku bilang, “beberapa dari mereka benar-benar terlahir seperti itu.”
“Dan kau percaya?”, lelaki yang bertanya.
“Iya.”
“Bisa saja itu adalah konspirasi. Dengan mengatakan bahwa beberapa orang terlahir dengan kondisi semacam itu, akan membuat orang-orang percaya bahwa pilihan mereka menjadi seperti itu adalah benar,” lelaki itu lagi.
Selanjutnya, lelaki lain bergabung, dengan begitu kini tiga lawan satu.
Kau sudah mendengar semuanya, apapun yang kami bicarakan malam itu. Ketika orang-orang menggunakan agama untuk menilai sesuatu yang salah dan benar. Atau juga pernyataan bahwa secara alami, hal itu tidak masuk akal. Dan beberapa hal lain seperti bentuk hubungan seksual yang harus dilakukan agak sedikit merepotkan. Juga tentang bagaimana sulitnya bagi penyuka sesama jenis ini mendapat penerimaan keluarga, dan tempat yang layak untuk menjalani hidup mereka secara normal di negara ini.
Terkadang, ada hal-hal yang sedikit tidak pantas untuk dikatakan.
Bagi mereka, kepercayaanku bahwa seseorang tidak layak untuk dinilai berdasarkan orientasi seksualnya takkan menemukan celah dalam kepala orang-orang yang percaya bahwa agama melarang eksplorasi semacam itu. Juga persetujuanku bahwa tidak ada masalah dengan pilihan penyuka sesama jenis untuk menyukai sejenisnya, akan berakhir telak dalam penolakan mereka karena itu adalah tindakan laknat. Hal yang samapun terjadi ketika aku berkata bahwa pernikahan sesama jenis itu seharusnya tidak masalah, karena membangun keluarga dan menikahi orang yang kau cintai adalah hak. Mereka sepakat bahwa penyuka sesama jenis harus mendapatkan hak mereka, namun menentang pernikahan semacam itu, karena terlalu banyak kebingungan, ujar mereka.
“Bagaimana mungkin dalam satu keluarga ada dua ayah dan tidak ada ibu, atau sebaliknya.”
Atau, “bagaimana mungkin terjadi sebuah keluarga tanpa ayah dan ibu yang memungkinkan lahirnya anak-anak?”
Tidak semua ingin memiliki anak jika berkeluarga, kataku, dan mereka bilang, kalau begitu tidak usah saja membangun keluarga, jalani hubungan saja. Lagi aku bilang, semua orang bisa mengadopsi. Dan mereka bilang, tidak semua orang mau memiliki anak yang bukan darah daging mereka sendiri. Aku bilang, ada bayi tabung, mereka bilang, “dan tetap saja kau butuh sesuatu dari lawan jenis untuk melakukannya”.
Memilih untuk setuju dalam perbincangan ini adalah sulit, terlebih jika kau harus melawan tiga orang yang saling sepakat. Segala argumentasiku tidak akan cukup. Ini adalah pembicaraan tanpa akhir, seperti banyaknya perdebatan dimana dua kubu melihat sebuah fenomena dalam kacamata yang berbeda.
Bagaimana mungkin berdamai dalam satu hal dengan dua cara pandang yang meletakkan kepentingan pada dua hal yang bertolak belakang? Tiga lawan bicaraku, berpijak pada agama, yang begitu saja akan melihat ini sebagai sesuatu yang tidak alami dan salah. Dan aku, yang percaya bahwa penyuka sesama jenis semestinya tidak dianggap berkurang kemanusiaannya — dengan begitu, apa yang mereka lakukan, rasakan, juga hak mereka mendapatkan hal-hal lain dalam hidup adalah sama. Bahwa tidak seharusnya mereka dipandang berbeda hanya karena kepada siapa mereka jatuh cinta tidak seperti mayoritas yang diterima.
Lalu perempuan itu betanya, setelah perdebatan cukup panjang dan tidak satupun dari kami yang terlihat akan mengubah sikap. Perbincangan ini sudah mendekati akhirnya, walau jelas sekali, kami tidak akan kemana-mana. Semua orang tetap di posisi mereka masing-masing, semakin percaya sebagaimana ketika ini dimulai.
“Bagaimana kalau anakmu adalah homoseksual?”
“Jika itu membuat mereka bahagia, aku tidak keberatan.”
Dia menganggapi, “sekarang kau berkata seperti itu karena kau belum tahu rasanya memiliki seorang anak.”
Aku paham bahwa pernyataan itu dengan kata lain adalah sebuah kesimpulan, bahwa aku bisa saja tidak yakin pada apa yang kukatakan. Seolah-olah aku tidak tahu apa yang aku bicarakan. Aku tidak tahu, dan belum memahami segala resiko dari apapun yang kupikir benar.
Lelaki kedua kemudian bertanya, “kau yakin dengan apa yang barusan kau katakan?”
“Tentu saja,” kataku.
Lalu ia menyambut, “begitulah jika kau hanya memandang cinta dari satu sisi.”
Aku menertawakannya, sampai dia melanjutkan, “ketika kau tahu sesuatu itu adalah salah, kau tidak seharusnya mendukung hal semacam itu.”
Tanpa niat untuk memperpanjang percakapan ini aku berkata, “ya, begitu sajalah.”
Memahami apa yang dia katakan tidak sulit, tidak seharusnya semua hal bisa diterima. Jika neraka adalah tempat orang mempertanggung jawabkan kesalahan suatu hari nanti di hari akhir. Maka membiarkan orang-orang yang kau sayangi berada di sana karena kau tidak menahannya dari kesalahan-kesalahan yang (mungkin) bisa kau cegah, tidak terdengar terlalu baik. Memandang cinta dari satu sisi menurutnya, ketika aku menerima anak lelaki atau perempuanku tidak tertarik oleh lawan jenis, karena aku hanya ingin kebahagiaan mereka. Lalu sepenuhnya melupakan bahwa itu adalah kesalahan fatal yang harus mereka bayar mahal: neraka. Jika aku cinta, maka aku akan melarang itu, demi kebaikan: surga.
Sebab harus memperhitungkan kehidupan setelah mati.
Mungkin benar aku hanya melihat cinta dari satu sisi, atau mungkin aku bahkan tidak mengerti cinta sama sekali. Mungkin aku tidak seharusnya mengatakan dengan yakin bahwa aku akan menerima jika anakku nanti menemukan cinta dalam kondisi yang ditentang kitab suci, karena aku belum tahu rasanya menjadi ibu. Tapi aku bahkan tidak terlalu paham apa yang diinginkan kitab suci dariku.
Namun aku tahu satu hal, bahwa penerimaan adalah bentuk cinta yang tulus. Kau tidak mungkin memberi ruang di hatimu untuk sesuatu yang bahkan tidak kau miliki. Aku tidak tahu rasanya memiliki anak, setidaknya belum, apalagi memiliki anak penyuka sesama jenis, tapi aku tahu rasanya kehilangan tempat berpijak ketika kau jujur tentang siapa dirimu sebenarnya. Aku mengerti rasa sesak harus bersembunyi dari orang-orang yang seharusnya paling tahu. Aku tahu rasanya mengawang, tidak sepenuhnya menjadi dirimu sendiri karena kau takut, kau akan kehilangan ketika mengatakan yang sebenarnya. Aku mengerti, rasanya harus terus menerus memilih, menjadi diri sendiri atau berpura-pura karena ada resiko yang tidak mampu kau hadapi.
Aku tahu dunia bisa menjadi tempat yang kejam untuk orang-orang yang berani, dan jujur. Aku tahu, banyak yang terpaksa melarikan diri, dari tanah ini, dari keluarga, karena mereka kehilangan tempat. Aku tahu, mereka harus mengubur beberapa keinginan, yang seharusnya sederhana hanya karena seperti tidak ada jalan keluar yang cukup masuk akal untuk mendamaikan setiap orang.
Perbincangan malam itu berakhir tanpa kesimpulan, masing-masing dari kami tidak pulang dengan pandangan yang berbeda ketika kami datang. Mungkin dunia akan selalu seperti ini, berputar, dan setiap orang di dalamnya hidup dengan cara dan pandangan mereka masing-masing. Dan mungkin, beginilah cara hidup yang paling nyata: dalam kekacauan, perdebatan, dan pilihan-pilhan yang bertentangan.
Di luar cahaya lampu tetap kuning, aku dengar suara kendaraan dari kejauhan. Ini sudah terlalu malam, aku bertanya dalam hati, “kemana tujuannya mereka selarut ini?”. Sepertinya pulang.
Leave a comment