Ya sudahlah.
Pertarungannya memang berat, lawanmu ada tiga. Bagaimana mau menang? Bagaimana bisa? Sudah kalah sejak awal ketika sebuah dongeng sakral diceritakannya padamu. Di tengah jalan, lawanmu bertambah, padahal kau masih kesulitan memahami apa yang sedang kau hadapi.
Kau butuh apa? Maaf, dia tidak punya satupun dari daftar panjang itu untukmu. Dia sedang mencari jalan keluar, atau membelokkan otakmu yang sinting sampai kau nanti sadar sendiri. Jangan bilang kau sudah membuang waktu, itu terlalu menyedihkan. Akan kau apakan dirimu dari kemalangan semacam itu? Kau kira kau terbuat dari apa? Begitu saja terus, maka kau akan menyaksikan kematianmu sendiri.
Jangan terlalu berangan, dia sudah jauh sekali di atas awan. Mana dia mau tahu kalau kau masih tersungkur. Kau lagi-lagi hanya akan terpuruk, meminta dia menemukan cara lain untuk menyambutmu hangat, karena segala ruang dalam kepalanya sudah berpenghuni. Kau hanya tamu tak diundang, yang memberatkan langkahnya dengan omong kosongmu.
Kau itu hanya menyusahkan, beban yang tidak tertanggung, kini dia lega setengah mati.
Leave a comment