Bicara dalam Hati

Ada kalanya, kau kehilangan kata-kata.

Bukan karena tidak punya sesuatu untuk dikatakan, tapi karena tidak tahu harus bagaimana mengatakannya. Jika tidak punya sesuatu yang baik untuk dikatakan, jangan mengatakan apa-apa. Begitu kata orang-orang bijak.

Diam bisa menjadi semacam emas, jika dilakukan demi sebuah kebusukan yang dipilih untuk tidak diungkapkan. Setidaknya, ada yang begitu. Diam tidak menyelesaikan apa-apa, tentu saja. Tapi diam kadang, mengajarkan lebih banyak daripada kata-kata. Keheningan biasa membuat orang berpikir.

Memilih diam tidak selalu benar, dalam kelompok besar, tidak membicarakan suatu masalah adalah cara mudah menambahkan masalah. Pilihan yang belum tentu menyenangkan semua orang, tapi siapa yang bilang pilihan seseorang harus menyenangkan semua orang?

Diam bukanlah sebuah pilihan yang profesional, dan ini bukan tulisan tentang profesionalitas. Ini hanya tulisan pendek tentang bagaimana kebungkaman pada akhirnya, tetap harus dibebaskan dari kepala. Karena, tidak mengatakan apa-apa bukan berarti tidak punya apa-apa untuk dikatakan. Semua orang selalu punya sesuatu untuk dikatakan, kepada siapa dan bagaimana, itu yang tidak selalu—dan itulah yang membuatnya penting.

Diam, sederhananya adalah menahan segala yang sebenarnya ingin atau bisa diungkapkan.

Kata-kata punya kekuatan, salah satunya adalah kemampuan untuk menyakiti atau meninggalkan kesan yang tidak nyaman. Merespon keterbukaan semacam ini dengan diam, bisa jadi menjerumuskan atau tanda kebijaksanaan: pilihan selalu punya dua sisi semacam ini. Dan diam, adalah satu hal yang berarti banyak sekali. Ia hening, namun riuh oleh banyak pertimbangan akan apa saja, juga hal-hal yang hadir untuk mendamaikan segala pertimbangan yang bertentangan. Melelahkan.

Diam itu melelahkan, bagi yang melakukan. Menahan banyak pengungkapan bukan hal mudah. Setiap orang memiliki caranya berkorban masing-masing, walau kecil, diam bukanlah pengorbanan yang sepele. Jika pikiran setiap orang selalu punya kemampuan untuk menilai, menghakimi, dan menyimpulkan, maka diam bukanlah hal yang mudah. Belum lagi jika pikiran-pikiran itu buruk sekali, menakutkan, atau bahkan mengancam. Bayangkan betapa beban semacam itu harus disenyapkan, kemana mereka semua berlari? Bisa menumpulkan otak dan membuntukan hati, pada satu titik, akhirnya.

Tapi, mungkin saja diam itu melelahkan, bukan hanya bagi yang melakukan, namun juga bagi mereka yang menghadapinya. Bahasa lahir untuk membuka banyak kemungkinan, dan menghubungkan maksud-maksud demi tujuan-tujuan. Jika tak digunakan, lantas apakah diam selalu berarti emas?

Leave a comment