Orang Luar

Because there are people who always feel like an outsider.

Katanya, memiliki teman itu adalah salah satu cara menyenangkan untuk menikmati hidup. Keterikatan dengan mahkluk lain untuk memenuhi kebutuhan kita atas ketentuan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Keluarga yang kita pilih sendiri, begitu biasa caption basi di foto-foto bersama teman yang diunggah di Instagram.

Banyak cara untuk memulai pertemanan, dan menyebutkannya satu per satu selain membuang waktu juga seperti meremehkan, seolah kalian tidak biasa saja dengan cara-cara itu. Selain kesenangan, banyak juga permasalahan yang dimulai pertemanan. Salah satunya, mereka yang selalu merasa seperti orang lain.

Ada orang yang tidak merasa sepenuhnya menjadi bagian dari sebuah lingkaran pertemanan, mungkin karena memang tidak mau, atau tidak bisa. Selalu ada jarak, bahkan ketika ia tidak dipaksakan. Hal-hal yang tertahan, lalu menjadi sebuah kebiasaan untuk tidak sepenuhnya mengambil tempat yang nyaman.

Sama sekali tidak berusaha untuk menyalahkan suatu kelompok, atau siapapun. Hanya sebuah sudut pandang dari banyaknya yang bisa muncul. Tidak juga meminta dimengerti, karena kadang mengungkapkan memang hanya untuk kepentingan pengungkapan itu sendiri.

Jarak itu tadi. Memaknai yang orang lain lakukan itu memang sebagian besar adalah urusan orang yang berusaha mengambil makna. Kadang tidak sesuai dengan apa yang dimaksudkan sejak awal, kesalahpahaman memang menyebalkan. Tapi begitu adanya, dan selama tidak dibicarakan ya berlanjut saja, lalu terteruskanlah segala yang rasanya kurang nyaman seperti jarak itu tadi.

Jarak yang lahir dari tanggapan-tanggapan semacam, “itu bukan urusanmu”, “ah, kau tidak tahu ceritanya”, “panjang kalau diceritakan”, “ya sudahlah kau tidak tahu juga”, atau “pokoknya begitulah”. Jarak yang tumbuh subur di inside jokes yang tidak pernah dijelaskan kenapa itu menjadi lucu. Jarak yang terpelihara dari nama-nama panggilan rahasia yang terus dirahasiakan tertuju pada siapa.

Sebenarnya, bukan sedang ingin mengorek apa yang terjadi dalam hidup orang lain, karena memang “itu bukan urusanmu”. Banyak sekali orang yang paham bahwa hidup orang lain dan segala gejolaknya adalah bukan konsumsi siapa-siapa, tapi tanggapan-tanggapan seirama tadi rasanya kurang tepat, walau sangat tepat untuk penciptaan jarak. Kierkegaard pernah bilang kalau tindakan kita adalah hasil dari pikiran-pikiran dominan di dalam kepala, maka tidakkah tanggapan semacam itu terdengar seperti posisi diri dalam kepalanya memang orang lain yang kadang-kadang menghabiskan waktu bersama.

“Kalau dia mau cerita, dia akan ceritakan padamu, itu bukan hak saya walaupun saya tahu tentang itu”, terdengar jauh lebih baik. Menjaga privasi seseorang dengan meletakkan sepenuhnya kekuasaan pada siapa akan berbagi kisah terasa lebih mudah diterima, jujur saja. Menolak menceritakan kisah orang lain adalah tindakan bijak seorang teman, dan ada cara yang tidak harus menyisihkan siapa-siapa.

Inside jokes yang entah dimana lucunya tapi tidak juga berusaha dijelaskan. Lalu ketika berada di sana, pada apa harus tertawa? Pada kemalangan diri sendiri karena menyadari bahwa ajakan terbuka itu memang benar-benar terbuka tanpa membuka apa-apa?

Atau nama panggilan rahasia yang tidak tahu untuk siapa.

Berada di hubungan pertemanan yang intens bisa memberikan kepekaan terhadap keengganan-keengganan untuk memiliki ikatan. Semua orang pada dasarnya hanya perlu menemukan tempat dimana hal-hal yang terlalu biasa untuk mereka menemukan sejenisnya. Sehingga segala hal-hal yang bagi banyak orang tidak masuk akal, menjadi normal di tempat dimana ia diterima.

Tidak juga ada salahnya ketika orang-orang yang menjaga jarak, teman memang harus dipilih.

Leave a comment