Ada seorang anak perempuan bermain dengan sebatang kayu, memukul-mukul semak-semak dengan serampangan. Wajahnya serius, tekun mengamati ayunan kayu di tangannya. Di jalan raya yang berdebu karena perbaikan jalan terlihat tidak menyenangkan untuk mengambil bagian di sana. Menunda pulang terdengar seperti ide yang tidak begitu buruk. Jendela terbuka, dan angin panas keluar masuk dari sana.
Ini sudah jam makan siang, dan menunggu dalam keadaan perut lapar tidak baik untuk orang-orang di sekitar. Gerah. Lelah. Hal semacam ini membuat orang-orang sering berpikiran tidak benar, tapi tidak kali ini. Kadang memang kalau terlalu lelah, pikiran-pikiran yang mengganggu sering hilang sendiri. Pasrah mengabur dalam kebuntuan berimajinasi. Lebih mudah membayangkan hal-hal sederhana saja, seperti semangkuk hangat makan siang atau tidur sejenak di kasur yang familiar.
Oh, ternyata ada dua anak yang bermain di beranda. Seorangnya lagi lelaki berbaju biru dengan kulit legam. Kulitnya seperti begitu mencintai sinar matahari.
Pohon besar itu daunnya bergoyang lembut. Membayangkan dedaunan itu merasa sepoi padahal jelas-jelas angin yang berhembus sejak 5 jam yang lalu terlalu panas untuk membuai. Warna hijau segar sepertinya memiliki pengaruh yang kuat dalam perkiraan semacam itu. Pohonnya tinggi sekali, bagaimana rasanya menjadi daun yang paling tinggi di atas sana? Apa ia melihat segalanya atau pandangannya tertutupi teman-teman daunnya yang bisa jadi sedang tidur siang?
Melantur lagi.
Melantur panjang hanya untuk menghindari sebuah pertanyaan yang dari tadi meminta dijawab. Melamun sendu hanya untuk mengabaikan kemungkinan-kemungkinan jawaban yang terpikirkan. Karena tidak menyenangkan, tentu saja. Melantur dan melamun pada banyak hal, seolah-olah bisa lari dari pikiran sendiri. Menipu diri sendiri dengan cara itu, bisakah disebut persaingan diri yang mendewasakan atau sebuah sikap kekanak-kanakan? Itu kan seperti sedang beradu pintar dengan pikiran rasional, atau sedang bermain-main dengan sebuah tuntutan. Jadi lebih tepat dianggap mendewasakan atau mundur beberapa langkah darinya?
Kenapa harus ada perbedaan bahasa antara dedaunan dan manusia? Lihat, sekarang semuanya jadi begini, tidak bisa bertanya pada daun yang mungkin lebih bijak. Dan daun di semak-semak hanya bisa pasrah dipukuli oleh batangan kayu dari tangan seorang perempuan kecil.
Leave a comment