Ia adalah Pembunuh Mimpi.
Biasa kau temui Ia di antara dompet-dompet lusuh namun tebal dan berat oleh berlembar-lembar kuasa yang kadang salah kau artikan dengan kasih sayang. Ia memang tidak pernah membelimu dengan itu, karena kau tak punya apa-apa untuk ditukar dengan itu, walau selembar.
Namun diam-diam, dalam ketidak berdayaanmu, Ia menutup dunia yang dipenuhi pikiran-pikiran terbakar, pikiran-pikiran terbang. Ia menutup dunia penuh kemungkinan itu darimu.
Lembaran-lembaran kuasa itu, ditukarkannya dengan kepatuhanmu yang abadi.
Percayalah. Ia adalah Pembunuh Mimpi.
Warna-warna bahagia dari kantongmu, disembunyikannya. Lalu Ia menyimpan warna-warna itu di bawah bantal di kamar tidurnya. Menyisakan kertas-kertas kosong, untuk kau isi dengan daftar panjang berisi angka-angka yang menghitung keberuntunganmu. Padahal kau sedang bersial diri.
Dikatakannya, dunia ini hanya hitam dan putih. Dia meyakinkanmu hampir setiap malam, bahwa warna-warna lain adalah ilusi panjang yang akan membuatmu kehilangan kesadaran.
Tujuh warna pelangi kesukaanmu, Ia ingkari tanpa ragu.
Buka matamu! Ia adalah Pembunuh Mimpi.
Tidurmu tak pernah menyelesaikan lelah apa-apa. Karena kau selalu terbangun di bawah langit pagi yang penuh dengan tanggung jawab yang tidak pernah kau pilih. Bergerak dalam waktu tanpa mempertanyakan apa-apa.
Ia berhasil membuatmu percaya bahwa ketika kau letih, kau telah melakukan sesuatu yang benar.
Karena rasa letih itu adalah bentuk perjuangan, ia membuatmu percaya bahwa kau adalah pejuang.
Kalian semua terlihat saling melengkapi, walau sebenarnya kau didominasi.
Leave a comment