Pernah memikirkan hal-hal yang tidak pernah diucapkan?
Segala yang tertahan dalam pikiran, yang bergelayutan tenang, menghantui seperti mimpi yang mengandung firasat. Segala yang begitu ingin diungkapkan tapi ditahan, dipenjarakan oleh pertimbangan-pertimbangan yang memberatkan. Segala yang hampir selalu diujung lidah tapi kembali ditelan bulat dan utuh sebelum ia terpeleset.
Seorang Penyair pernah berkata bahwa kata-kata memiliki dunianya sendiri. Bayangkan, mereka semua bercengkrama dalam pemahaman yang jauh lebih baik dari yang keluar dari mulut-mulut manusia. Lihat mereka, saling bertukar diri, menyatu, berpisah, dan makna berhamburan dan meledak dalam setiap sentuhan. Bergerak pada aturan-aturan kalimat namun berbaur acak, mengatur diri dan membentuk makna. Mereka tinggal di sana, di dunia mereka sendiri, ketika kita mengira kita memiliki mereka sepenuhnya.
Lalu ada dunia-dunia kecil yang tidak pernah kau dengar.
Di sana mereka tumbuh besar, menggebu-gebu dalam tubuh kecilku, kadang berusaha menghancurkan kewarasanku. Lalu aku mencoba menjadikan mereka puisi, yang mengukir namamu dalam beberapa baris rahasia yang kuncinya ada pada ingatan kita. Di lain waktu, kugunakan untuk berbicara padamu lewat pagi-pagi yang gelap. Dan kadang, kuserahkan pada lelucon menyedihkan tentang omong kosong kehidupan. Seringnya, ia hanya mengetuk-ngetuk kepalaku, meminta izin untuk memelukmu dalam hangat yang jujur.
Tanpa sengaja, aku membangun sebuah dunia dimana setiap dindingnya mengukir kegagalanku. Kegagalan untuk sepenuhnya terbuka dan mengatakan banyak hal yang mestinya kau dengar. Kegagalan menunjukkan bahwa kau layak untuk segala pengakuan dan penjelasan.
Seandainya bisa kubawa kau ke sana, kau akan tahu betapa riuhnya diamku sewaktu-waktu.
Leave a comment