Terima Kasih untuk Panggilan Sayangnya, Jendral

Ternyata, memang segalanya ini tentang selera dan pilihan-pilihan yang jatuh atas dasar itu. Mungkin kebenaran memang relatif dan satu-satunya yang nyata adalah fakta. Tapi, fakta pun hanya bisa senyata dimana sudut pandang diletakkan ketika ia dicermati.

Seseorang pernah berkata, “kau pikir semua orang suka denganmu?” dan itu bisa jadi adalah pertanyaan yang terlalu pernyataan. Sepertinya adalah fakta bahwa tidak semua orang bisa menyukai kepribadian seseorang dan hanya tersisa persoalan siapa sebagian dari semua orang itu. Ini fakta yang beberapa bagiannya tersembunyi, karena lebih baik begitu.

Tim Urban pernah menjelaskan, bahwa semakin tua umur seseorang, semakin sedikit teman akrab dan dekat yang mereka punya. Ini bukan hal yang menyedihkan, hanya kewajaran yang tidak perlu begitu dipusingkan keadaannya. Untuk menjawab apakah kondisi itu baik atau buruk, kembali saja ke soal sudut pandang. Toh selama ini semua urusan memang begitu-begitu saja penyelesaiannya—kalau memang harus diselesaikan. Disepakati-untuk-tidak-sepakat-kan sajalah semuanya, karena yang ngotot memang lebih baik ditikam tiga kali di dada kiri, kan?

Pada akhirnya memang tidak pernah ideal sebuah pikiran bahwa seseorang bisa berteman dengan semua orang. Tidak ada lelucon yang akan selalu lucu dimanapun. Jadi ketika menemukan tempat dimana orang-orang di sana bisa menertawakan hal yang sama berkali-kali, mungkin di sanalah kita seharusnya tetap tinggal. Sebab mereka telah memiliki orang-orang mereka sendiri, lelucon mereka sendiri, dan kebiasaan yang lekat terlalu baik.

Di sanalah tanda itu: tidak perlu melebarkan lingkar pertemanan.

Leave a comment