Dunia Menyebalkan

Ketika itu, sabit kah?

Seingatku, memang bukan purnama. Atau mendung? Itu masuk akal, anginnya tidak membuai malam itu. Kencang seolah kita harus terbang.

Seharusnya waktu itu, kita ikuti saja anginnya. Siapa tahu kita diterbangkan ke tempat dimana kita tak harus pulang. Atau sebuah dunia dimana tenggelam dalam api itu mungkin. Sebuah tempat kita takkan disebut gila.

Seharusnya.

Tapi, dunia kita ini tidak punya kemungkinan itu. Dunia kita melulu tentang penciptaan dan kerusakan. Kita terlalu lemah. Di dunia ini, tubuh kita terlalu penuh dengan omong kosong. Hingga tak ada angin yang mampu menerbangkan kita dan kita akan selalu terbakar oleh api.

Inilah dunia kita itu. Kupikir itulah mengapa kita tetap harus pulang, kembali ke rumah yang entah mengapa harus kita sebut rumah. Kembali pada kebiasaan yang entah kenapa menjadi keharusan.

Aku ingin tenggelam dalam api, bukan air yang selalu mencerminkan ketakutanku akan segala yang tak sampai gapaiku. Lalu seketika meledak dalam bentuk sempurna dunia yang ada dalam kepalamu. Aku ingin terbang sebagai angin, tak menantikan sayap dulu karena itu membuatku merasa tak lengkap dan cacat. Lalu seketika lenyap dan lupa darimana aku berasal.

Ayo lari dari sini!

Leave a comment