Pintu depannya tidak menyimpan wajah yang kau rindukan.
Lorong-lorong tempat permen-permen tersusun rapi tidak pernah merekam rasa kesukaannya.
Lemari pendinginnya, yang tersusun rapi susu-susu kemasan, tidak pernah membekukan senyuman asing.
Lantainya yang tak lagi baru, tidak pernah mengenali jejak-jejak rapi miliknya.
Ruang itu penuh dengan segala yang kau butuhkan. Segala, selain dia.
Kau keluar dari sana dengan pasrah, segala “kalau saja” jatuh di atas keset berpasir tepat setelah pintunya tertutup di belakang punggungmu.
Tempat itu kembali sepi.
Kau sudah sejak tadi.
Leave a comment